KEBANGKITAN NASIONAL

Harkitnas

 

Kebangkitan Nasional adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Nah, itu sekilas penjelasan mengenai Kebangkitan Nasional. Terus, gimana dengan kita PMKers? Apa kita punya rasa untuk Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia? Karena Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya diperingati sebagai peristiwa penting nasional saja, namun juga sebagai pengingat bahwa negara kita masih memiliki banyak permasalahan yang harus diselesaikan. Bagaimana dengan para pemimpin Kristen di Indonesia? Apakah kita sudah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, baik sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai warga Kerajaan Allah? Mari kita simak renungan dari salah satu Tokoh Kristen nasional

Yesaya 58:6-8

6) Bukan! Berpuasa yang Kuhendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya. 7) supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 8) pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

 

Pada 1942, pada masa awal penjajahan Jepang, Amir Syarifuddin Harahap berbicara dalam perayaan Natal BPPKK (Badan Persiapan Persatuan Kaum Kristen). Tokoh Kristen yang kemudian menjadi perdana menteri RI itu mengimbau agar orang tidak hanya memikirkan alam baka, tetapi “harus berdiri dengan kedua kakinya di tengah masyarakat yang bergolak”. Amir mengatakan demikian karena umat Kristen Indonesia masa itu cenderung apatis terhadap dinamika masyarakat. Mereka lebih suka berfokus pada hal-hal rohani.

 

Puluhan tahun kemudian, setelah Indonesia merdeka, masalah yang sama rupanya masih melilit umat Kristen di Indonesia. Banyak gereja mengaku “menjunjung Alkitab”, tetapi sayangnya cenderung apatis terhadap persoalan bangsa. Mereka lebih suka berfokus pada hal-hal rohani yang berkaitan dengan ibadah, pekabaran Injil. Soal mengisi kemerdekaan Indonesia dengan keterlibatan di segala bidang, nyaris tidak pernah dikaji atau ditekankan.

 

Tentu, ibadah dan pekabaran Injil perlu. Namun, jika hanya itu yang dilakukan orang Kristen, berarti kita belum sepenuhnya mengerti isi hati Allah. Dalam bagian kitab Yesaya yang kita baca hari ini, Allah jelas-jelas menginginkan ibadah umat-Nya berdampak pada perubahan sosial. Isu keadilan (ayat 6) dan kemiskinan (ayat 7), yang secara khusus menyangkut bidang politik, hukum, dan ekonomi, harus menjadi perhatian kita.

 

Hari ini, biarlah imbauan Amir Syarifuddin mengingatkan kita akan panggilan Kristen di tengah masyarakat. Biarlah kita disemangati kembali untuk turut giat mengisi kemerdekaan bangsa.

 

Sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_Nasional_Indonesia

https://www.mail-archive.com/i-kan-leadership@hub.xc.org/msg00043.html

-Les amateur de musique-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s