BERHENTI SEJENAK

 

Untitled-1

Pada zaman sekarang ini sosok mahasiswa semakin mendapat perhatian khusus, mengingat pembangunan nasional bangsa Indonesia memberi konotasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mahasiswa adalah harapan bangsa, dan di pundak merekalah masa depan bangsa ini akan dipertaruhkan. Maka mahasiswa sering “diagungkan” dan sekaligus “diharapkan” oleh orang tua dan masyarakat. Dengan demikian posisi menjadi mahasiswa, identik dengan “gengsi” bagi sekelompok orang.
Di tengah pergumulan bangsa dan perubahan sosial, mahasiswa dengan nalar yang kritis dan kreatif, ditantang untuk memberi jawaban. Dengan kekuatan mahasiswa sendiri, mustahil pekerjaan ‘raksasa’ ini akan tuntas. Apakah agama memberi jalan keluar terhadap permasalahan mahasiswa? Di saat seperti ini Tuhan menghendaki umat-Nya untuk berhenti sejenak. Berhenti sejenak dari segala rutinitas dan menggunakan perhentian ini untuk merelaksasi tubuh, membiarkan alam beristirahat serta memikirkan apa yang telah kita imani dalam hidup ini. Ini pekerjaan rumah kita, yang tidak mungkin dijawab dengan singkat, perlu introspeksi dan keterbukaan. Pekerjaan rumah kita ini juga merupakan perjuangan kita bersama, agar generasi muda lebih berkualitas dalam segala hal dan takut Tuhan.
Esensi mahasiswa Kristen ialah imannya kepada Kristus. Bila mahasiswa Kristen diperhadapkan dengan perubahan sosial, apakah ini berarti iman mahasiswa juga berubah? Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 1:19-27), iman memerlukan orientasi untuk pengungkapan. Pengungkapan iman kita ialah dalam wadah negara dan bangsa kita, yang membutuhkan sumbangsih konkret. Iman yang benar, akan menghasilkan buah yang benar pula di masyarakat. Buah yang benar di dalam masyarakat tersebut merupakan integritas, yang harusnya juga ada pada mahasiswa. Integritas yang dimaksud ialah pribadi, orang lain, masyarakat dan dunia. Bila kita beriman kepada Yesus Kristus, maka kita harus mengasihi diri, orang lain, masyarakat dan dunia (Mat 22:38-40).
Kasih Allah tidak diskriminatif, tetapi dinamis dan universal. Kasih Allah yang kita respon, diwujudkan dengan iman dan harus mewujud nyata dalam segala aspek hidup kita. Ukuran kasih kita kepada Allah menjadi tolok ukur kita untuk mengasihi sesama. Walaupun iman tak dapat dilihat dengan mata kita secara lahiriah, iman bersangkut paut dengan “mempercayakan diri secara total, mengerti kebenaran, komitmen, kemurnian dan kesetiaan, tindakan, dan lain-lain.”
Menumbuhkembangkan iman mahasiswa secara sehat dan benar, membutuhkan usaha keras kita dan inisiatif mahasiswa sendiri. Dari pihak mahasiswa perlu kesadaran bertumbuh imannya, dan usaha untuk “memelihara” secara konsisten, dengan disiplin yang ketat karena iman mahasiswa yang sehat dan benar berdampak pada moralitas mahasiswa.
Oleh karena iman mahasiswa sifatnya subyektif (pribadi), maka mahasiswa perlu mengalami pengalaman pribadi dengan Allah. Pengalaman pribadi ini tidak hanya pada level kognitif saja, tetapi lebih dalam adalah afektif. Pengalaman emosional bersama Tuhan setiap hari perlu mendapat konotasi. Mahasiswa perlu membiasakan dialog dengan Tuhannya setiap hari. Dialog dengan Tuhan, dapat diwujudkan dengan doa, reflektif, saat teduh, pemahaman Alkitab induktif/deduktif, dan lain-lain. Mahasiswa bukan hanya sekedar mengerti tentang Allah, tetapi harus mengalami pertemuan dan sapaan Allah setiap hari. Dialog yang mesra setiap hari dengan Allah inilah, yang memungkinkan mahasiswa “survive”, menghadapi persaingan dan perubahan sosial. Keseimbangan pengalaman mahasiswa dalam beriman dan berkarya di dunia ini akan menentukan masa depan mahasiswa, gereja dan bangsa.
Hidup dalam masyarakat pluralistik dan perubahan sosial, memerlukan keduanya: toleran dan intoleran. Kita sebagai mahasiswa berperan secara dinamis di antara kedua kutub tersebut. “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu” (Mazmur 119:9). Yesus berkata kepada mereka “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”. (Matius 25:45).
Maka dari itu, di hari mahasiswa internasional ini, marilah kita segera meninggalkan keduniawian dan merespon panggilan Tuhan serta percaya bahwa Tuhan telah memegang kendali atas hidup kita.
Tuhan memberkati.

Sumber: http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=562&res=jpz

The Walker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s