MENJADI ANAK YANG BERHASIL

Backup_of_hari anak nasional

Salam sukacita, Bulan Juli merupakan bulan yang istimewa bagi anak-anak karena secara khusus, pemerintah RI menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Setiap tahun, e-Bina Anak juga merayakannya dengan menyajikan topik-topik khusus seputar anak. Pada tahun ini, redaksi memilih tema Anak Indonesia yang Berhasil. Untuk mempertajam lagi definisi tentang keberhasilan yang perlu ditanamkan ke dalam diri anak-anak Indonesia, secara khusus anak-anak yang kita layani di gereja. Banyak orang tua memberikan ukuran keberhasilan anak dengan prestasi dalam berbagai bidang kehidupan. Hal-hal yang dianggap sukses menurut dunia ditanamkan dengan kuat dalam diri anak-anak mereka. Apakah orang tua Kristen juga melakukan hal tersebut? Apakah tidak boleh menanamkan sikap yang kompetitif untuk berhasil dalam diri anak-anak? Mari kita lihat bersama, bagaimana seharusnya kita mendorong anak-anak untuk memiliki keberhasilan sejati dalam hidup mereka. Keberhasilan yang akan menolong mereka mengejar keberhasilan-keberhasilan lain dalam dunia dengan cara benar dalam terang ilahi. Kiranya sajian kami minggu ini menolong kita untuk menyambut Hari Anak Nasional tahun ini dengan lebih bermakna.
“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yohanes 1:4) ARTIKEL: MENOLONG ANAK MENJADI ANAK YANG BERHASIL Tiba lagi waktu yang sama dalam setahun saat saya menghitung berapa banyak kursus piano yang telah saya ajarkan sepanjang tahun. Sembari saya menjumlah total kursus dari tiap murid, tidak mengejutkan bahwa mereka yang terbanyak mendapatkan kursus adalah murid-murid yang terbaik. Sebagai seorang guru, kapan pun, saya akan lebih menghargai ketekunan daripada bakat! Betapa sedihnya ketika saya memiliki seorang murid yang berbakat, tetapi tidak tekun. Bakatnya menjadi sia-sia. Sebagai seorang guru, saya sangat frustrasi akan hal tersebut dan murid tersebut tidak akan pernah mengetahui sukacita keberhasilan. Sebagai orang tua, adakah pedoman-pedoman yang akan meningkatkan kesempatan anak-anak kita untuk berhasil? Tentu saja! Akan tetapi, ketika kita melihat kelemahan kita sendiri yang “diperbesar” di dalam diri anak-anak kita, keputusasaan bisa menjadi berlebihan. Bagaimana kita mematahkan rantai sifat-sifat dalam diri kita, yang kita tidak ingin menurunkannya kepada anak-anak? Kita barangkali tidak ingin mendengar hal ini, tetapi perubahan terlebih dahulu harus dibuat di dalam hidup kita, sebelum ada harapan untuk perubahan terjadi di dalam hidup anak kita. Saya diminta untuk membahas masalah ini untuk sejumlah alasan. Yang pertama, tidak ada seorang pun yang senang melihat kegagalan. Ya, kita semua gagal pada waktu-waktu tertentu. Namun, bukan itu yang sedang saya bicarakan. Saya prihatin dengan orang-orang percaya yang gagal dalam hidup karena ketidakmauan untuk berubah! Kebiasaan yang buruk dapat membunuh pernikahan dan menghancurkan anak-anak, dan jika pola pilihan yang buruk tidak dipatahkan, kehidupan akan menanggung konsekuensinya. Yang kedua, saya baru saja membaca sebuah jurnal yang disimpan oleh seorang wanita muda ketika membimbing putri saya dalam tahun-tahun remajanya. Ketika saya membaca permohonan-permohonan doa, renungan- renungan yang dibagikan, dan pencobaan-pencobaan yang memenuhi kehidupan putri saya, 14 tahun yang lalu, dan saya melihat tekadnya untuk mengambil pilihan-pilihan yang benar, saya memuji Tuhan atas apa yang telah Dia lakukan di dalam hidupnya. Dia tidak pernah menjadi anak yang memberontak (meskipun dengan mendengarkannya berbicara, Anda akan berpikir demikian!). Dia memiliki pergumulan yang sama dengan yang dihadapi oleh gadis-gadis remaja yang lainnya, tetapi dia memiliki senjata pamungkas di dalam persenjataannya melawan Iblis, yang saya yakin layak untuk disebutkan, dengan harapan bahwa hal itu akan dapat membantu Anda.
1. Orang tua yang saleh. Kedengarannya, hal ini seperti memuji diri sendiri. Izinkan saya untuk menjelaskannya. Pada musim panas ini, yang bungsu dari anak-anak ayam kecil kami akan meninggalkan kandangnya. Anak kami yang tertua akan berusia 30 pada tahun ini. Ketika saya menanyakan mereka mengapa mereka bisa lurus (berjalan bersama Tuhan, mengasihi-Nya, dan taat kepada-Nya dan gereja-Nya) — sebuah pencapaian yang sering kali gagal dicapai di dalam keluarga-keluarga pendeta — mereka akan menjawab dengan kalimat seperti: “Kami telah melihat bahwa imanmu murni. Ibu menerapkan apa yang telah ibu khotbahkan.” Hal itu adalah hal yang SANGAT BESAR di dalam mengasuh anak. Apa yang harus Anda ubah untuk membuatnya menjadi kenyataan di dalam keluarga Anda?
2. Teman-teman dan pembimbing yang saleh. Saya memuji Allah atas seorang misionaris wanita muda lajang yang menyempatkan waktunya saat sedang cuti untuk membantu putri kami bertumbuh dalam perjalanannya bersama Tuhan. Bahkan, ketika kita masih lajang, kita memiliki kesempatan luar biasa untuk mencurahkan diri kita sendiri kepada orang lain yang belum tentu Anda miliki ketika Anda telah menikah. Sebagai orang tua yang anak-anaknya telah dewasa dan telah meninggalkan rumah, kami juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi pengaruh yang saleh bagi kehidupan orang-orang lain yang sebelumnya mungkin kami tidak memiliki waktu untuk mereka ketika kami sedang membesarkan anak-anak kami sendiri. Mengundang anak-anak lain ke dalam rumah kita juga dapat menjadi kesempatan untuk membimbing tanpa menambahkan perpanjangan waktu ke dalam jadwal kita yang telah penuh sesak.
3. Renungan setiap hari. Ketika saya membaca catatan harian putri kami, hal itu mengingatkan saya sekali lagi bahwa jika anak-anak kami tidak membaca Alkitab mereka dan berusaha untuk mendengar dari Allah, bagaimana mereka dapat bertumbuh secara rohani? Dia mengatributkan kebiasaan membaca Alkitabnya dengan sekolah minggu dan klub anak-anak hari Rabu malam kami yang menekankan renungan. Setelah 25 tahun mengajar anak-anak, saya hampir dapat memberi tahu anak-anak mana yang akan berhasil dalam perjalanan hidup Kristen mereka dan mana yang tidak, hanya dari kebiasaan yang dibangun selama masa kanak-kanak mereka! Dan, jika kita tidak membaca Alkitab kita dan berusaha untuk mendengarkan Allah, bagaimana mungkin KITA bertumbuh secara rohani? Ada begitu banyak hal lain yang memengaruhi anak-anak kita, tetapi jika kita membuang semuanya itu dan berpegang pada hal-hal yang mendasar, Allah akan bekerja di dalam hidup Anda dan dalam hidup anak- anak Anda. Sembari melihat anak-anak kami sekarang membesarkan anak- anak mereka sendiri, saya tidak dapat cukup mengucap syukur kepada Tuhan karena semua janji-janji-Nya benar-benar menjadi nyata! Dia akan ditemukan ketika kita mencari-Nya dengan segenap hati kita (Yeremia 29:13). Dia akan mendekat kepada kita ketika kita mendekat kepada-Nya (Yakobus 4:8). Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13). Iblis akan lari ketika kita melawan (Yakobus 4:7), dan dia tidak dapat mencobai kita untuk melakukan apa pun tanpa Allah menyediakan jalan ke luar (1 Korintus 10:13)! Akan tetapi, yang terbaik dari semuanya itu adalah 3 Yohanes 1:4, “Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” Ayat itu adalah janji yang mendorong saya berlutut di dalam doa, melembutkan hati saya untuk berserah kepada Tuhan, dan memberikan saya keberanian untuk berubah dan menjadi teladan yang masih perlu dilihat oleh anak-anak saya. Kiranya hal itu juga melakukan hal yang sama kepada Anda, karena sungguh, tidak ada sukacita yang lebih besar!
-BEETHOVEN-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s