Implementasi ‘Sahabat Sejati’ Alkitab di Masa Kini

Penulis : Elisa Angelica

Dalam Alkitab, kita diperkenalkan pada beberapa jenis hubungan baik dengan Allah maupun sesama manusia. Persahabatan merupakan salah satunya. Hubungan ini identik dengan interaksi dua/ lebih orang yang membangun kedekatan berdasarkan beberapa kesamaan atau pun komitmen menerima perbedaan satu sama lain. Persahabatan juga merupakan hubungan yang unik karena tidak memandang umur dan latar belakang individu yang terlibat. Alkitab mendefiniskan sahabat sejati lewat “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13) dan “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Amsal 27:6).

            Kedua definisi Alkitab mengenai persahabatan sebelumnya terkesan menakutkan. Mengapa kita perlu merelakan nyawa untuk manusia berdosa sama seperti diri sendiri? Mengapa sahabat yang baik malahan memukul kita? Bagaimana kita bisa tahu jikalau maksud sahabat kita ialah baik adanya? Keterbatasan manusia mengakibatkan pertanyaan semacam ini terus bermunculan. “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Sebagaimana besi menajamkan besi, demikianpun orang menajamkan akal orang. Sebagaimana baja mengasah baja, begitu pula manusia belajar dari sesamanya.” (Amsal 27:17)  Alkitab kembali mendeskripsikan hubungan persahabatan sebagi proses pembentukan sesama yang sejatinya tidak pernah mudah. Lewat persahabatan kita diajarkan begitu banyak pengalaman dan pembelajaran dari kehidupan sahabat kita. Sahabat sejati adalah orang yang mampu mengajakmu berproses bersama, orang yang dari dirinya kita dapat memperoleh hal baru untuk dipelajari, dan tentunya saling mendukung dan mengaktualisasikan pelajaran hidup pada diri masing-masing.

             Mungkin seringkali kita merasa sahabat kita tidak cukup mengenal diri kita dengan baik. Saat kita diterpa masalah dan bercerita, terkadang jawaban yang kita terima “kan sudah kukatakan sebelumnya, bukan?” atau di saat kita harus memilih sebuah pilihan mereka justru membatasi diri kita dan cenderung ikut campur. Tak jarang kita malah terluka dengan respon sahabat kita dan memilih menjauh (menganggap hubungan kalian mulai toxic). Berbanding terbalik saat kita bercerita dengan kenalan kita, mungkin mereka bahkan memberikan standing applause pada setiap pencapaian kita dan terlihat lebih bahagia dibanding sahabat kita seharusnya. Sama seperti halnya dengan Allah, setiap kali kita berhasil Allah ingin kita menyadari bahwa setiap keberhasilan kita itu milik-Nya bukan milik diri kita sendiri, berbahagia tentu boleh namun sifat sombong harus dicegah. Iblis mungkin akan menyanjung diri kita terus menerus, apabila dibiarkan parahnya kita mungkin akan mulai berpikir bahwa setiap kesuksesan yang saya peroleh memang karena saya hebat. Allah pasti menegur, mengingatkan, menghadang kita dari dari segala sifat buruk tentunya dengan KASIH. Sahabat masa kini tidak perlu menyerahkan nyawanya atau memukul dalam menunjukkan kasih pada sahabatnya, cukup hadir dan memberikan kekuatan kasih seorang sahabat akan tersampaikan.

Tuhan Yesus Memberkati:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s