Author Archives: intanvini

E-Refo Reborn

[E-Refo Edisi Welcoming Party 2021]

REFOMEDIA bring it back to you,

E-Refo Welpar Edition 2021 “CHRIST DID EVERYTHING FOR US”

Tim Produksi – Journalism and Editing Refomedia 2021

  • Intan Vini Adetya
  • Adella Yuan
  • Yossi Ruth
  • Kesia Athania

Kontributor

  • Juhniarto Tandipasau
  • Ranisha Putri Pardede
  • Mikhael Christopel Purba
  • Natasha Gabriela

E-Refo bisa kamu baca di link ini Erefo Welpar 2021

Selamat membaca PMKers! Tuhan Memberkati

BENARKAH KITA SUDAH SEPENUHNYA MERDEKA?

Status sudah merdeka, ternyata kita masih berpotensi dijajah.

Saat mendengar kata “Merdeka” yang terbayang dalam benak kita mungkin berbeda-beda. Ada yang membayangkan teks proklamasi, upacara kemerdekaan online, ornamen merah-putih, lomba makan kerupuk antar RT, dan lainnya. Atau mungkin tepat pada tanggal 17 Agustus ini PMKers bahkan sedang berburu diskon belanja online hari kemerdekaan yang tersebar di banyak marketplace. Semua  ini memang sudah menjadi hal yang lumrah di temukan dalam kemeriahan perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang selalu kita rayakan setiap tahunnya. Hari ini juga sudah sepatutnya seluruh Warga Negara Indonesia bergembira karena tepat 76 tahun yang lalu Bangsa Indonesia telah terbebas dari penjajahan yang berabad-abad. Perjuangan menuju kemerdekaan akhirnya tercapai. Walaupun masih dalam kondisi pandemi, semangat perjuangan kita tidak boleh surut.

Merdeka berarti bebas. Tidak ada lagi penjajah yang berhak membelenggu, mengikat, ataupun memperbudak bangsa ini. Bangsa ini berhak mengatur dan menentukan sendiri arah dan haluan masa depannya, menjadi mandiri dan tidak diikat oleh Negara manapun. Seluruh komponen yang ada di dalamnya merdeka, tidak ada yang terkecuali satupun. Ini adalah kemerdekaan sebagai bangsa. Tetapi kemerdekaan kita sebagai manusia adalah kemerdekaan yang kita peroleh dalam Kristus yang telah membebaskan kita.

Yohanes 8 : 30-38 (TB)

30 Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. 31 Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku 32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” 33 Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” 34 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. 35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. 36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

Dalam Yohanes 8 : 30-38 Yesus menyampaikan pokok tentang “Kebenaran yang memerdekakan”. Pada saat itu orang-orang Yahudi yang ada di situ tidak dapat menerima perkataanNya tentang kebenaran yang memerdekakan tersebut. Karena mereka adalah bangsa pilihan dan keturunan Abraham, maka secara teori sebenarnya mereka memang adalah bangsa yang sudah merdeka. Apa lagi kebenaran yang mereka perlukan untuk menjadi merdeka? Namun Yesus menekankan bahwa status sebagai umat Allah dan keturunan Abraham belumlah cukup. Karena walaupun memiliki status sebagai keturunan Abraham tetapi masih hidup dalam belenggu dosa, mereka tetaplah hamba dosa. Keturunan Abraham layaknya meneladani Abraham yang iman dan percayanya penuh kepada Allah.

Kita menyebut diri  kita sebagai murid Yesus, namun apakah kita sepenuhnya menghidupi kebenaran firmanNya, ataukah hidup kita masih saja terikat oleh bermacam-macam perbuatan daging? Kristus telah memerdekakan kita dari dosa. Kemerdekaan yang Yesus berikan bukanlah kebebasan yang tidak memiliki batas sehingga kita dengan sesuka hati melakukan apa yang kita mau hingga terlena dengan perbuatan daging. Kebebasan yang Allah berikan tanpa syarat itu akan sia-sia jika kita tetaplah menjadi budak dosa dan dunia. Karena itu sebagai murid Yesus yang menyebut diri sebagai Kristen sudah sepantasnya memiliki karakter Kristus. Kebenaran dalam Kristus akan menyadarkan kita dari dosa dan kuasa Yesus membebaskan kita dari penjajahan dosa. Jadi sekarang manakah yang akan kita pilih? Kekristenan sebagai sebuah status atau gaya hidup? Dimerdekakan dari dosa atau dimerdekakan untuk berbuat dosa?

Menjadi Kristen tidak cukup hanya status. Kita harusnya percaya dengan segenap hati, segenap jiwa, dan perbuatan kepada Yesus sebagai kebenaran yang memerdekakan kita. Terimalah Yesus sebagai Juruselamat dan kebenaran itu akan memerdekakan kita. Agar bukan hanya status kita sebagai bangsa Indonesia dan sebagai manusia saja yang merdeka tapi kita juga merdeka dari dosa.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-76 Tahun PMKers!