Tag Archives: pmkfebundip

SUDAH MELAYANI DENGAN BAIK ATAU HANYA SEKEDAR MELAYANI?

Penulis : Adelina

Shalom PMKers!

Kali ini kita akan bahas tentang pelayanan nihhh. Apakah kita sudah melayani dengan baik ataukah hanya sekedar pelayanan sajaa?? Yuk, kita belajar bareng tentang pelayanan dari nabi Yeremia.

Yeremia merupakan seorang nabi yang dipilih Tuhan sejak dalam kandungan.

Dalam Yeremia 1: 5-8 berkata, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam Rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”Tetapi Yeremia menjawab: “Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi Tuhan berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan.”

Dari firman tersebut kita dapat mempelajari bahwa Yeremia dipilih Tuhan untuk memberitakan firman Tuhan sejak ia dalam kandungan. Saat Yeremia mengatakan ia masih muda dan tidak pandai berbicara, Tuhan berfirman bahwa Yeremia harus pergi kemanapun ia diutus sebab Tuhan menyertainya. Hal ini pun perlu kita lakukan. Seringkali kita merasa sangat mengenal diri kita sehingga menolak panggilan dari Allah. Kita merasa tidak mampu dengan apa yang Allah minta atau justru kita merasa memiliki bakat lain. Padahal, seharusnya kita bersyukur jika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengerti panggilan dari-Nya. Tidak semua orang memiliki anugerah itu. Ketika kita sudah mengerti panggilan Allah, seharusnya kita bersedia melakukannya. Kita percaya bahwa Allah akan menyertai kita seperti bagaimana Allah menyertai Yeremia. Kita percaya bahwa Allah yang menyertai Yeremia adalah Allah yang sama seperti Allah yang menyertai kita.

Yeremia dalam pelayanannya melayani dengan kasih.

Dalam Yeremia 8:21, “Karena luka puteri bangsaku hatiku luka; aku berkabung, kedahsyatan telah menyergap aku.

Yeremia diutus untuk melayani bangsa Israel. Yeremia adaalah orang yang taat akan perintah Allah dan semua yang diperintahkan Allah untuknya, Yeremia teruskan kepada bangsa Israel. Tetapi Yeremia tidak hanya memberitakan injil dan menyampaikan pesan Tuhan, ia sungguh-sungguh melayani bangsa Israel dengan penuh kasih. Ia bahkan berduka atas keburukan yang dialami oleh bangsa Israael.

Keteladanan Yeremia ini menjadi contoh bagi kita bahwa dalam pelayanan kita harus melayani dengan kasih. Saat dipilih Tuhan untuk menjadi pelayan maka kita tidak hanya menyampaikan pesan Tuhan tetapi harus sungguh-sungguh dalam pelayanan, dan melayani dengan kasih.

Yeremia juga merupakan pribadi yang pantang menyerah.

Tidak mudah bagi Yeremia untuk menjadi seorang nabi. Diutus sejak muda merupakan tantangan yang besar bagi Yeremia.  Berulang kali ia mengingatkan bangsa Israel tetapi ia ditolak. Yeremia tidak didengarkan bahkan mereka berencana untuk menghukum mati Yeremia. Tetapi berkat Kasih yang dimilikinya, Yeremia tidak menyerah. Segala tantangan dalam pelayanannya ia kerjakan dengan baik. Dan Yeremia hanya berpikir untuk melakukan yang terbaik dalam pelayanannya.

Keteladanan Yeremia yang satu ini sangat menginspirasi dalam masa kesulitan. Tentu dalam pelayanan banyak kesulitan yang kita hadapi kadang juga membuat kita ingin menyerah. Tetapi ingatlah bahwa kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang.  Hal yang menjadi nomor satu dari pelayanan kita adalah sikap hati terbaik yang kita berikan kepada Allah. Hasil akhir seharusnya kita serahkan kepada kehendak Allah sesuai dengan yang dikatakan ayat Alkitab tentang berserah.

Jadi gimana nih PMKers, apakah kita sudah melayani dengan baik atau hanya sekedar melayani saja?

Indah Pada Waktunya, Apalagi Waktu-Nya!

Penulis: Rodnauli Tobing
Shalom PMKers!
 
Sebagai manusia yang hidup di zaman modern dan sangat tech-minded sekarang ini, kita hampir secara otomatis terbentuk menjadi makhluk yang cenderung result oriented alias melihat segala seuatunya itu lebih banyak pada hasil ketimbang proses. Betul, tidak? Coba ingat-ingat ya, kita lebih mudah mengapresiasi orang-orang dengan keberhasilannya tanpa mau bersusah-susah mengingat gimana perjalanan, upaya, jatuh-bangunnya orang tersebut dari mulai nol yang pastinya juga didera banyak kesulitan dan tantangan. Bahkan, kita nyaris melupakan itu semua dan memilih lebih terpana dengan keberhasilannya semata. Tidak mengherankan banyak yang tertipu dengan fenomena crazy rich yang menyilaukan mata. Terpesona dengan “keberhasilan” millenials yang masih sangat muda sudah bergelimang harta, lalu ikutan dengan model bisnisnya yang menjanjikan kekayaan sangat instan yang kemudian terbukti ternyata caranya ilegal sehingga berurusan dengan proses hukum.
 
Juga, kepada teman kita yang berhasil dalam perkuliahan dengan mendapatkan nilai sangat baik dan IPK membuat ‘ngiler. Kita pasti merasa amaze. Iya, ‘kan? Tentunya, untuk meraih itu semua dibutuhkan upaya yang tidak ringan dan menuntut banyak pengorbanan: waktu, tenaga, dan pikiran. Mengorbankan kesenangan yang berlebihan (main game, nonton youtube, tiktok, dll) dan menggantikannya dengan belajar sungguh-sungguh, pastinya. Berlinang air mata? Mungkin aja! Dan masih banyak “siksaan” lainnya.
 
Itu namanya proses. Kita harus siap berproses dan juga diproses. Hasil tidak akan mendustai proses, demikian kata orang bijak. Percayalah, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Sebab, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:5-6).
 
Jadi, maju terus dengan upaya keras, jujur, dan strategi cerdas untuk meraih prestasi tertinggi dan posisi teratas. Selain itu, perlu juga kesabaran. Jangan memaksa kehendak, apalagi dengan mengorbankan orang lain dan yang tidak perlu. Semua indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11), apalagi waktu-Nya. Waktu Tuhan, bukan waktu kita. Ayo!

PERGUMULAN DAN KUASA TUHAN

Penulis : Adelina

Shalom PMKers!

Kita sebagai seorang manusia tentu saja tidak terlepas pergumulan hidup. Baik itu tentang keluarga, pendidikan, kesehatan, sahabat dan banyak pergumulan lainnya. Pergumulan hidup tidak akan ada habisnya selama kita hidup. Tetapi yang penting adalah apakah kita  bisa melewati pergumulan tersebut dengan mengandalkan Tuhan, atau kita hanya akan berlarut-larut didalamnya?

Pada Alkitab sendiri, ada kisah yang sangat menarik yaitu kisah dari Yefta. “Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead.”(Hakim-Hakim 11:1). Ketika saudara-saudara tirinya besar, mereka mengusir Yefta dari rumah mereka. Akibatnya ia pun pergi ke tanah Tob, negeri Aram. Disana ia berkumpul dengan petualang-petualang dan merampok bersama. Lalu tidak lama kemudian Israel berperang melawan bangsa Amon. Para tua-tua Gilead datang menjemput Yefta dari Tanah Tob untuk meminta bantuannya. Dan mereka akan menjadikan Yefta sebagai pemimpin mereka. Dan Yefta pun setuju. Lalu Yefta membawa seluruh perkaranya itu kehadapan Tuhan, di Mizpa. Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta dan Tuhan menyerahkan bangsa Amon kedalam tangan Yefta, sehingga bangsa Amon telah dikalahkan. Lalu Yefta diangkat menjadi hakim atas Israel. (Hakim-hakim 11:1-33).

Dari kisah Yefta ini kita bisa mengambil suatu pelajaran bahwa dengan mengandalkan Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Yefta bisa saja menolak tua-tua Gilead untuk membantu mereka melawan bangsa Amon karena mereka membenci dan mengusir Yefta. Tetapi Yefta membawa semua perkaranya kehadapan Tuhan dan Tuhan membantunya dalam melawan bangsa Amon. Yefta menang melawan bangsa Amon bukan hanya karena kekuatannya sendiri tetapi juga karena kuasa Tuhan. Maka dari itu kita juga sebagai manusia hendaknya mangandalkan Tuhan dalam setiap pergumulan kita, maka Tuhan juga akan membantu kita melewati pergumulan tersebut. Tuhan memberkati!

Bersyukur Dulu Baru Bahagia atau Bahagia Dulu Baru Bersyukur?

Penulis: Kesia

Shalom PMKers!

Akhir-akhir ini kita melewati keseharian kita dengan berbagai kejadian yang membuat kita senang, kesal, sedih, dan lain-lain. Terkadang kita sulit untuk menemukan kebahagiaan. Padahal, bahagia itu sederhana. Hanya dengan bersyukur dan mencukupkan diri dengan apa yang ada, maka kita akan menemukan kebahagiaan. Sebaliknya, jika kita terus-menerus merasa tidak puas dengan keadaan kita, maka kita akan sedih, gelisah, dan menjadi orang paling malang sedunia. Orang-orang sering sulit mengucap syukur kepada Tuhan ketika sedang diperhadapkan pada kesulitan, masalah, kesukaran atau kekurangan. Sejujurnya, memang bukan perkara mudah untuk mengucap syukur di tengah situasi yang tidak baik. Namun, kita dapat belajar menjadi pribadi yang bisa mengucap syukur dalam segala hal.

Kita juga memiliki target, tujuan, atau impian yang mau kita capai. Seringkali kita baru berbahagia ketika impian kita tercapai. Daripada digusarkan dan digelisahkan dengan apa yang belum ada pada kita, berbahagialah sejak sekarang dengan mengucap syukur atas apa yang sudah ada dalam hidup kita. Daripada mengeluh untuk hal-hal yang belum kita miliki, daftarkanlah hal-hal yang sudah kita miliki dan bersyukurlah, maka kita akan menjadi orang-orang yang bahagia sepanjang waktu. Jadi, jangan menunggu impian kita tercapai dan bersyukurlah dengan apa yang ada.

Bersyukur dulu baru bahagia, bukan bahagia dulu baru bersyukur karena mengucap syukur seharusnya tidak tergantung pada keadaan dan suasana hati. Belajarlah mengucap syukur atas hal-hal sederhana yang kita miliki saat ini, entah itu mengucap syukur untuk tubuh yang sehat, mengucap syukur untuk keseharian yang kita lewati, dan mengucap syukur untuk setiap berkat jasmani yang Tuhan sediakan setiap hari. Kita juga bersyukur bukan karena hidup tanpa masalah, tapi kita bersyukur karena Tuhan ada bersama kita untuk melewati setiap masalah. Teman-teman, ayo kita ingat berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita sehingga kita selalu bisa mengucap syukur dalam segala keadaan. 

Tuhan memberkati!

E-REFO EDISI NATAL 2021

REFOMEDIA bring it back to you,

E-Refo Christmas Edition 2021 “One Heart To Love”

Tim Produksi :

  • Yossi Ruth
  • Kesia Athania
  • Adella Yuan
  • Allehandro Yosea
  • Theresa
  • Jessica Sonia

Kontributor

  • Herfin Angelina
  • Raymonth Pieter Silaen
  • Maryanti Sinaga
  • Rosa Maria Simanjuntak

E-Refo bisa kamu baca di link ini https://drive.google.com/file/d/11T40EthbsOViP5JSl3_iHntT4PODfDMb/view?usp=sharing

Selamat membaca PMKers! Tuhan Memberkati

Hukum Tabur Tuai

Penulis : Putri

Apa yang Kamu tabur, itu yang Kamu Tuai
Shalom PMKers! Apa kabar ? Semoga dalam keadaan baik dan bahagia selalu yaa.
Kali ini, kita akan membahas terkait tabur- tuai.
Sebelumnya, kita cari tahu dulu apasih tabur ? tuai ?
Jadi, menurut KBBI, tabur/ta·bur/ 3 ki membagi-bagikan (uang, sedekah, dan sebagainya)
tuai/tu·ai/ n pisau pemotong (pengetam) bulir padi; ani-ani;:
menuai/me·nu·ai/ 3 ki menanggung akibat perbuatan sendiri;
Lalu, gimana sih maksud dari Apa yang kamu tabur, itu yang Kamu tuai ?
Ada peribahasa yang berbunyi “Apa yang ditabur itulah yang tuai”. Kita mungkin pernah
mendengar bahwa ada cerita tentang orang yang dulunya sangat kaya dan memiliki harta
berlimpah, akan tetapi seiring waktu berjalan orang tersebut tiba-tiba bangkrut secara mendadak,
hartanya habis dan memiliki banyak hutang. Dengan cerita ini, ada banyak persepsi akan muncul
di dalam pikiran kita, berarti orang tersebut tidak benar dalam mendapatkan kekayaannya. Orang
tersebut bisa kaya mendadak karena korupsi, membodohi orang lain atau memperoleh harta
dengan cara yang tidak dikehendaki Tuhan.
Selain itu, ada juga cerita tentang dua orang petani yang menabur benih jenis yang sama di
wilayah dan kondisi yang sama. Namun, ketika menuai hasil sawahnya, petani A menuai dengan
kualitas yang baik dan berlimpah. Sedangkan, petani B menuai dengan kualitas yang buruk dan
sedikit. Petani B merasa iri mengapa petani A bisa menghasilkan panen yang lebih baik
dibandingkan petani B. Padahal dibalik itu semua, Petani A dalam proses menabur benih
merawat sawahnya dengan baik dengan cara membuat alat pembasmi hama, memupuk sawah
supaya gabah lebih berkualitas, dan memantau perkembangan benih padinya dengan baik.
Sedangkan petani B, hanya merawat seadanya dan tidak melakukan seperti yang dilakukan oleh
petani A. Tetapi petani B seolah tidak terima dengan hasil yang dimiliki orang lain tanpa
membandingkan dengan apa yang dilakukanya selama masa menabur benih padi miliknya.
Ada banyak manusia saat ini tidak menyadari apa yang dilakukannya hari ini akan dituainya di
kemudian hari. Terkadang ketika dihadapkan dalam masalah, kita secara tidak sadar mengeluh
merasa dunia tidak adil bahkan menyalahkan Allah, tanpa kita sadari mungkin masalah yang kita
peroleh adalah tuaian apa yang kita tabur di masa lalu. Dalam Alkitab disampaikan bahwa “Apa
yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai.” (Gal. 6:7). Selain itu, dalam 2 Korintus 9 : 6
dituliskan “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang
yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”.
“Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana, dan tongkat amarahnya akan habis
binasa. Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin
(Amsal 22:8-9). Ayat Alkitab ini menyadarkan kita supaya kita menabur hal yang baik, jika kita
ingin menuai yang baik pula. Namun, memang terkadang Berbuat hal baik saat ini sering
dicurigai oleh orang-orang tertentu sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Dan
kenyataannya memang sangat banyak orang yang melakukan kebaikan hanya untuk
mendapatkan balasan budi baik. Tapi itu bukan menjadi penghalang untuk kita tetap berbuat
baik. Kita harus meneladani Allah, karena jika kita kaitkan dengan dosa kita, upah kita adalah
maut. Jika kita menanam dosa, maut lah yang akan kita tuai. Tetapi karena karunia Allah ialah
hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”Dia mengambil tuaian kita dan
menggantikannya dengan berkatNya dengan tidak mengharapkan imbalan yang mungkin tidak
bisa kita balas dengan apapun.
Jadi mari berusaha menuai hal yang baik dari sekarang; hal itu akan menentukan apa yang akan
kita tuai di masa nanti.
Referensi:
Nababan, Suara B.M.2012. “Apa yang Ditabur, Itu Juga yang akan Dituai”,
https://nababan.wordpress.com/2012/09/30/apa-yang-ditabur-itu-juga-yang-akan-dituai/2
9 September 2021